Saturday, February 25, 2006
YANG TERLANGKAHI

Tangan kurus Qimah terus mengaduk kancah yang terjerang di depannya. Urat-urat tangannya menonjol ketika menggenggam dengan kuat gagang sendok panjang yang terbuat dari kayu. Peluh bercucuran di sekujur tubuh Qimah, matanya turut menjadi merah. Walaupun tangan Qimah asyik mengaduk namun sesekali telinga Qimah mendengar suara gelak-tawa para gadis.
Sejenak Qimah berhenti mengaduk dan melongokkan kepalanya ke depan, ke arah gadis-gadis yang sedang sibuk membuat kue. Ingatannnya melayang ke masa-masa silam ketika ia dan beberapa gadis sebaya dengannya pernah juga duduk disitu, di atas tikar pandan sambil menjerang piyaram di atas loyang yang sudah di olesi minyak makan. Bercengkrama dan bergosip tentang film-film Rhoma Irama, atau sesekali menyenandungkan lagu-lagu Ely Kasim. Ah, kapankah itu? Sepuluh, dua puluh tahun? Qimah tidak ingat persis. Begitu cepat waktu berlalu, begitu lekas berita berubah dan anak-anak itu tumbuh besar. Lalu Qimah? Qimah juga berubah. Rambutnya yang dulu hitam lebat kini mulai memutih, jari-jari tangannya yang dulu halus dan lentik kini terlihat kurus dan kasar. Wajahnya yang dulu cerah laksanan purnama, kini redup bak bulan ditelan gerhana. Tapi ada satu hal yang belum juga berubah pada diri Qimah. Satu yang entah kenapa sangat sulit menghampiri. Bahkan semakin hari-semakin menjauh darinya.
Bukannya Qimah tak punya kehendak. Bukan pula tak membuka hati dengan lapang. Madu mudanya dahulu pernah juga di semai, menarik hati kumbang untuk mendekat. Jala-pun telah pula di tebar untuk menjadi perangkap burung agar masuk ke dalam sangkar. Namun nampaknya segala daya upaya selalu berujung di atas kegagalan. Kumbang tak hendak kepada madu. Burung seperti enggan masuk ke dalam sangkar. Mereka semua terbang menghindar dan lebih memilih untuk mendarat di kuntum-kuntum lain yang juga sedang mekar. Sedangkan Qimah? Pintu rumah itu tetap dingin dan kaku. Tak berderik sedikitpun.
“ Kalau anak gadis tak punya sawah, tak punya rumah yang kokoh, tak punya ninik mamak yang di segani orang, janganlah berharap akan bisa membagikan sirih.” Begitu gunjingan yang bersorak di pekan, menyemak di pematang sawah dan berkecipak sampai ke bulakan. Sementara Qimah hidup bak pinang sebatang. Tak punya sanak famili yang di segani, juga tak punya sawah yang luas untuk bisa jadi kebanggaan. Dan rumah gadang yang selama ini ia diami telah lapuk tak tertopangkan. Sementara di kampungnya rumah bukan sekedar tempat untuk bernaung, dan sawah bukan hanya sekedar tempat untuk mengais rezeki. Namun lebih dari itu, keduanya adalah penopang muka, simbol dan nilai yang menentukan kedudukan dan bahkan jodoh seseorang. Apalagi adat yang berlaku di kampungnya mengharuskan pihak wanitalah yang meminang. Pihak wanita juga harus memberikan sejumlah uang atau barang berharga sebagai persyaratan lamaran kepada pihak lelaki. Bagaimana pula jika si wanita tidak memilikinya? Bersiaplah diri untuk mengulum air liur! Karena sang jejaka tak berminat dijemput oleh sang dara. Apalagi jika si wanita kurang elok pula rupanya.
Adonan santan yang telah di campur bumbu itu semakin pekat. Udara semakin panas dan peluh semakin bercucuran di wajah Qimah. Sesekali ia membungkuk memasukkan kayu lebih dalam ke tungku agar apinya dapat menyala besar. Namun karena kayu bakar yang dimasukkan tidak cukup kering, api itu bukannya tambah menyala, malah asap yang keluar semakin menggila. Karena tak tahan lagi dengan asap yang menyerang matanya, Qimah memutuskan untuk beristirahat sejenak. Perlahan di langkahkan kakinya meninggalkan dapur dan kemudian masuk ke ruang depan. Dan di kamar depan - kamar pengantin - terlihat beberapa gadis tengah sibuk memasang kelambu di atas ranjang. Ada banyak hiasan bunga yang akan mereka lekatkan di setiap lipatan kelambu. Seorang gadis terlihat tekun melipat selimut tebal sedemikian rupa sehingga membentuk sekuntum bunga yang sedang mekar di tengah ranjang.
Qimah menghentikan langkahnya di depan pintu kamar pengantin. Matanya dengan awas menatap pada kerumunan gadis-gadis yang sedang mengeliligi Hayati, gadis ranum belia. Besok adalah hari yang membahagiakan bagi Hayati. Pesta pernikahannya akan dilangsungkan dengan seorang pemuda kampung sebelah. Dan malam ini adalah malam bainai bagi Hayati. Kuku-kuku tangan dan kakinya sedang di pasangkan daun pacar air yang sudah di haluskan. Dan semalaman ia harus tidur dengan kuku-kuku yang di tempeli daun itu. Ikatan itu baru bisa di lepas besok pagi, agar warnanya menjadi merah dengan sempurna.
“ Tek Qimah ingin berinai? “ Sebuah suara lembut mengejutkan Qimah. Sekilas Qimah terseyum ke arah seorang gadis yang barusan menawarkan inai padanya, namun kemudian ia menggeleng. Beberapa saat Qimah masih berdiri di depan pintu memperhatikan kegiatan gadis-gadis itu sambil menguping pembicaraan mereka. Namun lama-kelamaan ia tidak dapat mengikuti arah obrolan mereka. Nama-nama orang terkenal yang mereka idolakan, lagu-lagu terbaru yang mereka dendangkan dan si bujang yang mereka pergunjingkan. Shahrul Gunawan dan Inul Daratista? Siapa mereka? Ah, begitu cepat waktu merubah semua, begitu banyak hal yang tak lagi dapat ia simak. Perlahan ia melangkahkan kakinya ke ruang tengah. Beberapa wanita separo baya terlihat sibuk mengupas kentang dan nangka muda. Sebahagian sedang mengukur kelapa di parutan duduk. Di ruang itu juga terdengar cekikikan, sama halnya dengan kamar pengantin tadi. Qimah memutuskan untuk duduk sejenak di sana. Segera di raihnya ikan teri yang teronggok di sudut dan satu persatu di lepaskannya kepala ikan teri itu. Kembali telinganya menguping pembicaraan ibu-ibu yang ada di ruang itu. Berbagai ragam topik yang mereka bicarakan, sesekali dengan di iringi tawa. Tapi topik pembicaraan itu tak pernah lepas dari membicarakan anak, suami, dan jamu sari rapet! Ketika pembicaraan yang agak seronok selalu di selingi tawa. Sungguh Qimah tidak bisa mengikutinya. Lama-lama ia merasa jengah juga. Namun ia berusaha untuk bertahan juga di sana. Walau ia tidak bisa ikut tertawa atau sekedar untuk mengulum senyum. Tiba-tiba ia mendengar seseorang berteriak memanggil namanya dari arah dapur. Bergegas ia melangkahkan kakinya ke dapur. Dan benar saja, ruang dapur telah di penuhi asap tebal. Ternyata api tungku mati.
“ Kenapa tak kau urus dulu kancah ini. Eee, malah kau urus yang bukan tugasmu. Sudah bukan tempatmu lagi di situ. Kau bukan anak gadis lagi, bukan pula emak-emak!.” Suara Uwo Darimah begitu pedas. Qimah hanya diam saja. Tak ingin berbantah. Memang kesalahannya jika meninggalkan tungku dan membiarkan apinya mati. Tapi kata-kata Wo Darimah terakhir yang begitu menyakitkan di hatinya. Bukan anak gadis lagi! Bukan pula Emak-emak! Lalu dimana tempatnya?”
Bertahun-tahun ia terus berusaha mencari jawaban itu. Mencari tempat itu. Mencari status itu. Namun tak juga ia dapatkan jawabannya. Ia ingin juga merasakan malam bainai, ingin mempunyai kamar yang di hias kelambu dan kain selimut di tengahnya. Ia ingin juga orang-orang akan menjujung talam berisi ketan dan pinyaram ke rumahnya. Ia ingin juga bergunjing di bulak-an tentang anak-anak yang nakal atau jika kelak ia bisa juga membuat sebuah pesta yang meriah untuk anaknya nanti. Seperti halnya Rusmini kawan sebayanya yang besok akan menikahkan anak gadisnya Hayati. Lalu bagaimana semua impian itu bisa terjadi sedangkan ia tak punya seorang suami? Hingga umurnya yang sudah lebih dari kepala empat ini rumahnya masih saja sunyi dan kamarnya masih dingin dan beku. Dan selimut tebal itu, selimut itu hanya membungkus badannya seorang tanpa ada sebuah dekapan yang akan menghangatkan tubuhnya jika ia kedinginan. Namun semua impian itu hanya bisa ia simpan dalam hati. Karena tak ada tempat mengadu. Ibunya telah tiada, juga mamaknya sudah pula lama abai denganya. Ia sekarang tinggal sebatang kara , mencarikan untung badannya. Menjadi buruh upah di sawah-sawah orang yang membutuhkan tenaganya. Lalu dengan keadaan demikian adakah seorang lelaki yang akan mengetuk pintu rumahnya? Merubah panggilan padanya selain sebutan perawan tua, gadis tak laku yang sering di timpakan ke mukanya selama ini. Entahlah. Karena sulit sudah mengejar ketertinggalannya. Betapa kawan-kawan sebayanya dulu kini telah bersuami, beranak pinak, bahkan sudah ada yang mempunyai cucu. Tahun demi tahun berlalu, pesta demi pesta pernikahan yang ia hadiri, dan bergesernya satu persatu tempatnya berselonjor, dari menghias ruang pengantin, membuat pinyaram, mengupas kentang di ruang tengah dan sekarang menjaga kancah di dapur. Betapa semakin hari posisinya semakin tercampak kebelakang. Terlangkahi setahap demi setahap.
Dulu ia sering meratapi nasibnya, mengadu kepada orang-orang yang sekiranya dapat membantunya. Namun bukan pertolongan yang ia dapatkan malah sebaliknya sebuah cemoohan dan ajuran agar ia melupakan saja keinginan itu. Karena orang-orang zaman kini lebih banyak memikirkan kepentingan mereka sendiri, tanpa mau membantu kesusahan orang lain. Oleh sebab itu ia mencoba dan mulai terbiasa untuk melupakan dan menyimpan apa yang di rasakannya itu sendiri. Begitu juga kali kali ini Qimah tidak lagi berminat mencari jawabannya. Yang ingin ia lakukan ini adalah mengaduk kancah itu sampai santan dan daging ini mengetal dan berubah menjadi rendang yang enak. Agar esok para tamu akan bisa menyantapnya dengan nikmat. Dan juga agar esok ia bisa mendapat sedikit upah dan kalau mungkin ia bisa membawa sedikit makanan sisa pesta ke rumahnya. Tangan Qimah tak berhenti mengaduk, terus dan terus. Sementara asap semakin menggebu menyerbu ke sejukur wajahnya. Asap itu juga menyerbu bola matanya. Segera mata itu menjadi merah dan mengeluarkan air dengan derasnya, meleleh sampai ke pipi Qimah. Namun tidak ada yang tahu di antara air mata yang berjatuhan itu terselip air mata Qimah sendiri, air mata kesedihannya. Air mata seorang perempuan yang terlangkahi!
Herlina Chaniago Belawan , November 2004
Kancah : Kuali besar yang di gunakan untuk memasak rendang
Ninik mamak : Kerabat yang dituakan/ hormati
Bulakan : Tempat pemandian umum
posted by Herlina @ 3:34 PM  
Wednesday, February 08, 2006
Perempuan Dan Kegelapan


Perempuan itu kelihatan gelisah. Sebentar-sebentar ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke depan. Tapi hanya beberapa langkah, dengan cepat dia berbalik kembali ke tempatnya semula, duduk dengan kedua tangan yang tak henti-hentinya meremas sesuatu. Dari wajahnya yang gusar dan gerak bola matanya yang tak pernah berhenti melirik ke kanan dan ke kiri nampak bahwa ia gelisah. Apakah ia sedang menunggu? Mungkin. Lama juga ia duduk di situ, namun sesuatu atau seseorang yang di tunggunya tak juga muncul. Satu jam, dua jam, dan tiga jam telah berlalu. Dan setiap berlalunya waktu kelihatan kegundahan di wajahnya semakin menjadi. Sementara ia masih juga setia dalam posisi seperti itu, matahari tak hendak menemaninya. Perlahan sinarnya menjadi kemerahan dan memberi tanda bahwa sebentar lagi gelap akan datang. Semua orang kelihatan bergegas memberesi semua apa yang perlu di bereskan, memasukkan semua apa yang perlu di masuk-kan dan melangkah dalam cepat dan lalu-lalang seakan malam akan menerkam semua yang telah mereka kumpulkan di siang hari. Namun perempuan itu seakan tidak terpengaruh dengan panggilan alam ataupun gerak dan gelagat orang-orang di sekitar. Ia masih saja duduk di tempatnya semula. Tetap terlihat menunggu, dengan ekspresi dan tindak-tanduk yang tetap sama, sampai akhirnya hari benar-benar gelap. Dan malam telah mencabut semua kekuasaan siang, mengantar semua makhluk yang ada di muka bumi ini untuk kembali ke peraduan. Tapi lihatlah perempuan itu. Tiba-tiba ia bangkit dari tempat duduknya. Wajahnya mendadak terlihat begitu pucat seperti kehilangan darah. Apakah ia kecewa karena apa yang tengah di nantikannya itu tidak juga tiba? Mungkin. Namun perlahan kaki perempuan itu melangkah ke depan, berjalan terus hingga kemudian hilang di balik tikungan jalan.
Sudah beberapa senja ini aku sengaja datang ke taman ini. Semula maksudku hanya untuk mencari sedikit ketenangan untuk membaca. Karena di rumahku sudah tak ada lagi tempat yang lengang dari jerit dan gaduh anak-anak-ku yang sedang bandel-bandelnya. Namun tanpa sengaja aku melihat perempuan itu. Pada awalnya aku tidak begitu mengacuhkannya. Namun karena telah beberapa kali aku melihatnya selalu dengan sikap dan ekspresi yang begitu, menunggu entah apa, dan kemudian setelah hari gelap ia pergi entah kemana. Dan kebiasaan itu yang membuatku jadi mulai tertarik untuk memperhatikan tingkah lakunya.
Dan senja ini aku kembali berjumpa dengannya di tempat biasa. Di jam yang sama ketika ia datang dan dengan langkah gontai, kemudian duduk di bangku yang sama yang seolah memang di sediakan hanya untuknya. Kucoba mengamati wajahnya dengan seksama, walau itu kulakukan dengan diam-diam. Terlihat di balik keletihan wajahnya ada berkas kecantikan yang tersembunyi. Ada sebuah keaggunan yang sengaja di surukkan dalam gurat-gurat kesedihan di mata yang menunggu. Dan tubuh itu, tubuh yang sebenarnya terawat dengan baik. Namun mengapa tubuh terlihat layu?
Pada awalnya aku hanya berani memandang wajahnya saja, tanpa ada keberanian menyapa atau mungkin mengajaknya bercerita.Tapi rasa penasaran yang membubung di hatiku menyeret langkahku perlahan untuk mendekat dan mengambil posisi duduk di sebelahnya. Dan ketika jarak antara kami semakin dekat, bertambah kentaralah terlihat guratan kecemasan itu di wajahnya yang putih. Dan bau kecemasan itu semakin tercium dari butiran kecil yang mengalir dari keningnya. Semula aku berpikir ia akan merasa risih dengan kehadiranku di sebelahnya. Karena selama aku melihatnya di taman ini, belum pernah ada yang duduk di bangku yang sama yang biasa ia duduki. Tapi anehnya, walaupun aku telah duduk di sampingnya, ia seolah tidak terpengaruh dengan kehadiranku. Bahkan matanya-pun tak hendak menyapaku. Ia tetap terpaku melihat ke depan. Dan tangan itu, tangan itu tetap tak berhenti meremas-remas sebuah sapu tangan berwarna ungu. Setelah beberapa lama dengan situasi diam seperti ini, akhirnya aku memberanikan diri untuk menyapanya.
Ia hanya diam, bahkan menolehpun tidak. Seolah ia sama sekali tidak mendengar suaraku. Dan reaksinya itu sungguh membuatku salah tingkah. Mungkinkah ia tidak senang dengan ke hadiranku di dekatnya? Ataukah memang ia seorang yang begitu sombong atau justru malah tuli? Karena tidak juga mendapat respon dan kalimat balasan, aku putuskan untuk menjauh. Aku tidak ingin menggangunya lebih lama. Dan ketika tubuhku hendak berdiri untuk beranjak dari sisinya, samar-samar kudengar suara itu berguman lirih.
“ Bukankah malam seharusnya menjadi berkah bagi orang-orang itu. Malam justru akan melindungi mereka dari mata-mata buas yang liar itu.”
Kembali kupalingkan mataku ke arahnya dan bertanya dengan heran,” Siapa yang anda maksudkan?”
“ Anda, dan orang-orang itu. Anda dan semua akan terlindungi oleh kegelapan yang sebentar lagi akan datang. Kalian akan masuk ke dalam cangkang-cangkang yang telah kalian bangun dengan kokoh di siang hari.”
Aku diam dalam bingung yang menerpa. Mencoba berpikir untuk mencerna apa maksud dari kata-kata yang barusan di ucapkan oleh perempuan itu. Tapi belum lagi hilang kebingunganku kudengar ia kembali berucap pelan.
“ Di sebuah hari mereka pernah berjanji padaku untuk membuatkan aku cangkang yang sama seperti yang orang-orang itu punya. Disana akan kususun hari-hariku dan ku rawat benih yang mereka tanam dengan segala cinta yang kupunya. Tapi ternyata itu hanya segala janji yang di bangun dalam kerangka yang palsu.” Sesaat ia menarik nafasnya yang memburu di sesaki hawa kemarahan.
“ Semua laki-laki memang di lahirkan untuk membuat kebusukan. Dan kali ini kebusukan itu bukan saja telah tertanam di rahimku tapi telah menjadi darah dan nanah di dalam hatiku!”
Mendengar perkataannya, entah mengapa aku menjadi ragu. Benarkah perempuan di depanku ini adalah orang yang waras? Atau justru aku sedang bercakap-cakap dengan orang gila. Namun dari pakaian yang ia kenakan yang begitu bersih dan jalinan rambutnya yang begitu rapi aku menjadi bimbang. Maka kembali kucoba untuk mengajukan pertanyaan.
“ Aku melihat anda selalu duduk di sini di setiap senja. Kelihatannya anda sedang menunggu, seseorang mungkin?”
Ia tidak langsung menjawab pertanyaan yang kuajukan. Kali ini matanya begitu lekat memandang ke arahku. Dan pandangan itu seperti meneliti setiap inci dari tubuhku. Dan entah mengapa pandangan matanya itu membuat jantungku berdebar-debar. Pandangan mata itu begitu tajam menghujan, seperti sebilah pedang yang baru saja di asah berulang-ulang.
“ Anda memang benar, aku memang sedang menunggunya.” Sampai disini ia tidak melanjutkan kalimatnya. Kemudian ia kembali tenggelam dalam dalam pandangan matanya yang tajam namun tidak berkejelasan, entah menatapku atau apa, seolah sepasang mata itu hanyut dalam pusaran cerita yang begitu kuat. Apakah itu cerita masa lalunya? Mungkin. Tapi yang jelas, ia tidak lagi melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba saja tubuh itu bangkit dan berjalan ke depan. Tidak puas dengan reaksinya aku mencoba mencegah kepergiannya.
“ Tunggu! Anda belum menyelesaikan cerita anda? Siapa yang anda tunggu itu?” Suaraku begitu penasaran walau sebenarnya terdengar penuh penekanan. Dan itu cukup berhasil membuat ia berhenti melangkah dan menoleh padaku. Namun reaksi yang di perlihatkan sungguh di luar dugaan.
“ Kalau kau ingin tahu, ikuti aku.” Setelah berkata begitu ia kembali berjalan ke depan namun kali ini lebih cepat. Sejenak aku masih terpaku di tempat. Ada keraguan untuk memenuhi ajakannya itu. Namun rasa penasaran yang begitu besar menyeret langkahku untuk bergegas mengikutinya.
Pada awalnya kami berjalan beriringan dalam diam. Sementara senja di ufuk timur mulai merayap, matahari mulai masuk dalam selimut gelap. Wanita itu terus saja melangkah meninggalkan taman, kemudian berbelok ke kiri ke jalan yang agak menanjak. Terus lurus melewati perkampungan penduduk dan kemudian masuk ke sebuah gang sempit yang di sesaki rumah-rumah kumuh. Aku pikir ia akan berhenti di situ, namun dugaanku salah. Ia terus saja berjalan melewati perkampungan itu, terus berjalan ke pinggir kampung dan memasuki jalan setapak menuju ke tengah hutan. Cahaya rembulan yang benderang menerangi semak belukar kami lalui. Walaupun begitu beberapa kali kakiku tersandung ranting dan rumput yang tinggi menghadang. Namun anehnya perempuan itu sama sekali tidak terganggu dengan kondisi jalan yang demikian. Dengan tenang ia melangkah seolah jalan itu sudah begitu akrab dalam langkahnya. Dengan tertatih-tatih aku tetap mengikuti langkah wanita itu sebelum akhirnya kami sampai di pinggir sebuah danau. Wanita itu berdiri di tepi danau, matanya memandang ke tengah danau yang airnya kehitam-hitaman.
“ Kau lihat air danau yang kehitaman itu? Dulu air danau itu sangat bening, tetapi sekarang telah keruh. Karena air itu bukanlah lagi air, tapi telah menjadi kubangan keringat dan lendir. Di dalam danau setiap malam ada persembahan. Persembahan untuk makhluk-mahkluk rakus yang menjijikkan.”
“ Maksud anda di dalam itu ada binatang buas, seperti ular dan buaya misalnya?” Aku bertanya dengan heran sambil memandang suasana sekitar yang kelihatan aneh.
“ Mereka jauh lebih buas dari ular dan buaya. Mereka bisa dengan cepat berubah wujud. Pada siang hari mereka akan menjadi makhluk-makhluk yang baik. Mereka akan memakai pakaian manusia dan beraktifitas seperti biasa. Namun bila gelap telah datang mereka akan berubah wujud. Dari tubuh mereka keluar lendir yang menjijikkan. Sangat menjijikkan. Tapi entah mengapa mereka justru suka bermain-main dengan lendir mereka yang menjijikkan itu. Mereka seolah tak pernah puas, walaupun sebenarnya di rumah mereka juga tersedia permainan yang sama. Tapi entah mengapa mereka lebih suka kemari.
” Siapa mereka? Apa mereka makhluk ghaib penunggu danau ini? Atau jangan-jangan kau ini...?” Aku tidak menyelesaikan kalimatku karena tiba-tiba bulu kudukku merinding.
“ He he he, kau pikir aku ini hantu? Atau orang yang kurang waras? Tidak! Aku manusia normal. Justru mereka itulah yang tidak normal. Mereka lebih mengerikan daripada hantu atau orang gila sekalipun! Kau lihatlah sebentarlagi mereka akan datang berbondong-bondong dan menyerbu kesini.”
Dan benar saja, tak beberapa lama dari kejauhan terlihat begitu banyak sinar lampu menerangi tepian danau. Seketika danau yang tadi sunyi kini semarak oleh sinar yang berwarna-warni. Tepian danau yang tadi sunyi berubah menjadi arena yang hiruk pikuk. Serombongan demi serombongan orang datang dengan kendaraan yang bermacam merek. Musik mengalun dari yang berirama lembut sampai yang menghentak. Karena tidak tahan dengan kegaduhan yang datang tiba-tiba itu aku memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu. Namun sebelum beranjak, aku menoleh kepada wanita itu.
“ Ini bukanlah tempat yang baik dan aman untukmu. Siapa orang-orang itu? Mereka kelihatannya bukan orang-orang yang baik. Mari kita pergi dan segera tinggalkan tempat ini. “
Namun wanita itu tidak menggubris ajakanku. Ia tetap saja berdiri di tepi danau di tengah hiruk-pikuk orang-orang yang tiba-tiba datang dan berjalan lalu-lalang. Tidak tega meninggalkan wanita itu sendirian, segera kuulangi ajakanku sekali lagi. Bukannya menanggapi ajakanku, perempuan itu malah berkata dengan ketus.
“ Kau sama saja dengan yang lainnya. Kau hanya ingin aku pergi menghindar jauh. Dan menghindar itu adalah pekerjaan yang sia-sia. Karena nantinya aku juga tidak akan di terima dan kembali dicampakkan ke danau ini oleh orang-orang yang menganggap diri mereka suci. Aku tidak akan pergi, dan aku tidak butuh ajakanmu. Kau tahu apa yang kubutuhkan? Seorang laki-laki yang akan bersama-sama denganku masuk ke dalam danau itu dan membunuh mereka semua. Ya, membunuh mereka semua tanpa sisa.”
Sejenak wanita itu terdiam. Mukanya tiba-tiba mengeras dan matanya memandang nanar ke tengah danau.
“ Laki-laki itu pernah menggandeng tanganku memasuki danau itu. Kau tahu, ia kemudian menggunakan senjatanya dan menghabisi beberapa dari mereka. Namun hanya seberapa. Karena setelah itu, ia mati. Mereka telah membunuhnya. Ia mati di dalam danau itu. Ia mati untukku. Mati untukku. Mati!”
Tak kuhiraukan lagi gelegar suara perempuan itu berteriak. Segera kulangkahkan kakiku meninggalkan danau dan tempat yang aneh itu, namun sebelum berbelok meniti jalan setapak aku sempat melihat wanita itu berjalan perlahan-lahan ke tepi danau. Dan betapa kagetnya aku ketika melihat wanita itu mencopoti satu persatu pakainannya. Sehingga ketika ia tiba ti tepi danau tubuh wanita itu telah bugil tanpa sehelai benangmu. Belum sempat hilang kagetku, tiba-tiba dari dalam air kulihat makhluk-makhluk aneh muncul ke permukaan. Jumlah mereka begitu banyaknya. Mereka menarik tubuh wanita itu ke dalam air, terus masuk ke dalam air danau yang hitam itu. Anehnya wanita itu sama sekali tidak meronta. Ia diam saja ketika tangan-tangan aneh itu menenggelamkan tubuhnya ke dasar danau. Dan betapa terkejutnya aku ketika dengan seksama kuperhatikan wujud makhluk itu. Kepala mereka menyerupai buaya, dengan moncong yang panjang dan bergigi runcing. Tapi anehnya tubuh bawah mereka. Tubuh bawah mereka seperti tubuh manusia. Tubuh laki-laki biasa!

Herlina Chaniago Belawan, 3 Juli 2004



















posted by Herlina @ 6:05 AM  
Sunday, October 09, 2005

CINTA DI NEGERI KABUT

Suatu musim, ketika pertama kali Kay melihat laki-laki itu berdiri di ruang baca papanya, dengan tubuh bersandar pada dinding lemari buku dan jari-jari yang sibuk membuka lembar demi lembar buku yang di pegangnya. Sepasang kaki yang kokoh di balut celana panjang berwarna hitam dan sepasang sepatu Buchery yang tersemir rapi. Wajahnya yang terlihat menyamping menyimbulkan sebuah rahang yang kuat, kumis tipis dan sepasang alis yang hitam dan tebal, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih kemerah-merahan.

Sejenak Kay tertegun di sudut pintu masuk ruang baca papanya. Dengan tangan memegang gorden ungu yang terjuntai menyentuh lantai keramik yang berwarna pucat. Tak ada keberanian untuk melangkah masuk, apalagi untuk sekedar menyapa. Ia hanya berdiri mematung dengan sepasang mata yang awas memandang ke arah laki-laki itu. Dan sejauh itu, laki-laki itupun tampaknya tidak menyadari kehadiran Kay. Matanya terus tertuju pada buku yang di pegangnya. Namun sesekali sepasang mata itu memandang lurus kedepan kearah jendela kaca lebar berbingkai kayu ulin yang di pernis keemasan.

Kay masih ingat saat itu ia berusia dua belas tahun. Sebuah usia yang menurutnya penuh dengan berbagai kecemasan. Perasaan cemas yang dirasakannnya saat mendapatkan haid pertamanya, begitu juga saat Kay perlahan mengamati pertumbuhan biologis pada organ-organ tertentu dalam tubuhnya. Peralihan rasa saat dulu di panggil nona kecil dan sekarang akan menjadi seorang nona. Semua kecemasan yang membuat Kay tidak dapat lagi menikmati sepenuhnya saat mengayuh sepeda mininya, tertawa saat membaca buku-buku komik yang terpajang di rak panjang di depan tempat tidurnya, dan mulai menjauhkan Kay dari koleksi boneka Barbienya. Namun semua kecemasan itu terasa kalah jauh dengan apa yang baru pertama kali di rasakannya saat itu, sebuah kecemasan yang menjalari seluruh pembuluh darahnya, dan yang lebih parah lagi ketika di benak Kay muncul sebuah imajinasi intim yang bertabrakan dengan realitas bahwa ia masih terlalu hijau hanya untuk sekedar membayangkannya. Tapi yang pasti, semua perasaan yang di rasakannya itu bermuara pada sosok laki-laki asing yang pertama kali di lihatnya di ruang baca papanya.

“Siapa laki-laki itu ma?” tanya Kay seuatu kali kepada mamanya yang sedang sibuk dengan adonan kue diatas meja dapur.

“Laki-laki yang mana Kay?” tanya mamanya dengan mata yang menyipit.

“Laki-laki yang sering berada di ruang kerja papa,” jawab Kay.

“Oh, itu Om Baron, Baron Hendarta. Dia teman papamu dulu waktu kuliah di Jerman. Dan sekarang mereka sedang terlibat dalam sebuah proyek penelitian.”

“Apakah dia punya istri dan anak?” tanya Kay lagi.

“Dia belum menikah,” jawab mamanya sambil menggeleng perlahan.

“Hmm, apakah dia mempunyai pacar?”tanya Kay malu-malu.

Sejenak mamanya memandang sambil tersenyum ke arah Kay, namun kemudian diam dan kembali sibuk menuangkan coklat bubuk ke dalam adonan black forest yang di buatnya. Kay merasa tidak puas dengan respon yang di berikan mamanya. Perlahan dia berjalan kearah meja dapur dan berdiri di dekat mamanya. Kay mencelupkan ujung jari telunjuknya kedalam adonan kue yang sudah berwarna coklat,dan kemudian memasukkan telunjuk yang berlumur adonan itu kedalam mulutnya.

“Hmm, kurasa ini terlalu manis, komentar Kay sambil berjalan meninggalkan dapur di iringi senyum di wajah mamanya.

Mulai saat itu, kehadiran Baron di rumahnya bukanlah hal yang asing lagi bagi Kay. Diam-diam Kay mulai sering mengamati ekspresi wajah Baron yang selalu serius, ketika kali-laki itu terlihat sibuk bersama papanya di ruang kerja. Atau saat mereka terlihat santai di beranda samping. Atau ketika mereka asik bermain bilyard di lantai dasar rumahnya. Bahkan Kay mulai dapat membedakan suara mesin mobilnya saat laki-laki itu datang dan meninggalkan pekarangan rumahnya. Dan entah mengapa perlahan Kay merasakan bahwa kedatangan Baron di waktu-waktu tertentu ke rumahnya membawa perubahan aneh yang di rasakan pada tubuhnya yaitu saat dimana ujung-ujung jari kakinya akan menjadi dingin dan mengejang dan perutnya tiba-tiba terasa mual.

Seperti ketika suatu malam Kay keluar dari kamar tidurnya dengan piyama berwarna krem, dan berjalan perlahan-lahan ke arah tangga dan diam-diam duduk di anak tangga teratas sambil memandang ke bawah ke ruang tengah, kearah bar mini yg di disain sendiri oleh papanya. Dari atas Kay melihat ketika laki-laki itu melepaskan jasnya, menggantungkannnya di sandaran kursi yang bisa di stel tinggi, rendah dan memutar dan perlahan menggulung lengan kemejanya yang berwarna biru laut, memperlihatkan bulu-bulu halus dari kedua tangannya yang kekar. Sementara papanya yang berdiri di balik meja bar menuangkan minuman ke dalam gelas pendek berigi yang bulat. Sebelum meminumnya, kay melihat Baron memasukkan beberapa potong es batu yang berwarna kristal, menggoyangkan gelasnya sebentar dan kemudian meminumnya perlahan. Kay tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tapi dia bisa melihat seraut wajah yang terlihat serius, tanpa senyuman, terlihat dingin dan kaku, namun entah mengapa Kay mulai menyukainya. Walaupun sejak pertemuan pertama, Kay tidak pernah melihat laki-laki itu tersenyum, begitu juga ketika pertama kali papanya memperkenalkan Kay dengan laki-kali itu.

“Baron, ini putriku Kayyomi.”

Laki-laki itu hanya melihat sekilas ke arahnya dan berkomentar pendek.

“Putrimu cantik Hans, tapi lebih mirip Ratih istrimu.” Lalu seperti biasa matanya yg dingin itu akan beralih memandang keluar jendela ke arah bunga-bunga Kamboja yang sedang merekah. Dan entah mengapa Kay merasa tidak puas dengan tanggapan yang di berikan Baron. Dalam hati ia merasa kecewa.

Pagi itu ketika Kay sedang menbaca buku komik kesayangannya di beranda samping yang bersebelahan dengan ruang baca papanya. Tiba-tiba Kay di kejutkan oleh sebuah suara yang menyapanya dari arah belakang.

“Mulailah membaca buku yang lebih serius dan berbobot. Papamu di usiamu ini bahkan telah membaca buku-buku filsafat.”

Kay menoleh kebelakang dan melihat Baron berdiri di pintu beranda. Tidak seperti biasanya ketika Baron selalu terlihat rapi dengan stelan jasnya. Kali ini dia tampil berbeda, dengan kemeja kotak-kotak dan celana jeans berwarna biru tua. Dan dalam hati Kay memuji bahwa Baron terlihat lebih gagah, walaupun usianya tidak terpaut jauh dengan papanya. Namun laki-laki itu terlihat lebih muda.

Sebelum Kay sempat berkomentar dengan pernyataan Baron, ia melihat laki-laki itu melangkah masuk ke arah ruang baca papanya dan kemudian tangannya sibuk mencari-cari sesuatu. Tak berapa lama dia berbalik ke arah Kay dengan sebuah buku di tangan.

“Kurasa ini cocok untukmu sebagai permulaan,” katanya sambil menyerahkan buku yang di pegangnya ke tangan Kay.

Tanpa banyak komentar Kay meraih buku itu, membaca judulnya sekilas -Layar Terkembang- kemudian meletakkannya di atas meja di depannya. Sejenak Kay tetap diam sambil memandang buku yang tergeletak di atas meja.

“Mengapa anda belum menikah?” Sebuah pertanyaan yang sangat mengejutkan tiba-tiba meluncur dari mulut Kay tanpa ia sempat meralatnya.

Laki-laki itu tidak menjawab. Dan anehnya tidak ada perubahan yang terjadi pada raut wajahnya yang kemerahan itu. Tetap dingin dan kaku.

“Nenekku pernah bilang kalau setiap orang harus menikah.”

“Kenapa begitu?” tiba-tiba laki-laki itu menyela.

“Karena sebuah pernikahan bisa membuat orang lebih banyak tersenyum,”jawab Kay sambil memandang kearah Baron. Untuk sejenak kedua pasang mata mereka bertemu, sepasang mata yang dingin dan kaku milik Baron dan sepasang mata kecil dan naif milik Kay.

“Sebuah pernikahan itu bukanlah seperti saat kita memilih menu makan malam. Begitu banyak yang harus di pertimbangkan,” jawab Baron diplomatis.

“Papa dan mamaku tidak punya masalah dengan hal itu,” bantah Kay.

“Kau masih terlalu kecil untuk sekedar memahami hal itu,” jawab Baron sambil berlalu dari hadapan Kay.

Kay hanya terdiam. Tak ada keinginan untuk berbantah atau sekedar bertanya lebih lanjut. Tapi dalam hati dia merasa puas.

Beberapa waktu kemudian Kay mulai jarang melihat Baron berkunjung kerumahnya. Tidak seperti biasanya, entah mengapa kali ini Kay merasa ada sesuatu yang hilang. Tidak dengan deru mesin mobilnya ketika meninggalkan pekarangan rumah Kay. Atau dengan percakapan seriusnya di ruang kerja papanya. Tapi kali ini Kay mulai merasa rindu memandangi wajahnya yang dingin dan kaku.

Tapi apalah arti rindu yang di rasakan oleh seorang gadis berusia dua belas tahun terhadap seorang laki-laki yang hampir sebaya dengan papanya. Kay mulai memilah-milah perasaan rindu yang pernah di rasakannya. Mungkin juga hal ini sama rasanya ketika dia merindukan kakek dan neneknya yang tinggal di kaki bukit. Atau ketika Kay rindu pada papanya yang meninggalkannya beberapa waktu untuk tugas keluar negeri. Dan perasaan rindu yang Kay rasakan pada sahabat-sahabatnya di sekolahnya yang dulu. Namun perasaan rindu yang di rasakannya kali ini sangat berbeda. Perasaan rindu yang bermain di hatinya, menyebar ke sekujur tubuhnya. Membuatnya benci saat-saat ketika harus makan malam dan membuat wajah-wajah orang-orang di sekitarnya membesar dan berubah menakutkan yang menyebabkan Kay lebih memilih untuk bersunyi di kamarnya sambil memandangi wajahnya sendiri.

“Umur berapa mama pertama kali jatuh cinta?” tanya Kay suatu hari.

Kay melihat wajah mamanya sedikit terperanjat, namun kemudian tersenyum ke arahnya.

“Hmm, lima belas tahun. Kenapa kau tanyakan itu sayang?”

“Apakah gadis seusiaku ini terlalu cepat untuk jatuh cinta?” tanya Kay lagi.

Sesaat mamanya menatap Kay dengan pandangan takjub, sama seperti tatapan seorang ibu yang baru saja melihat anaknya mulai belajar berjalan.

posted by Herlina @ 2:43 PM  
Tentang An-Nissa
Nama : Herlina Chaniago A.K.A An-Nissa

Lokasi : Belawan Medan

Perempuan Berdarah Minang ini mulai menulis Cerpen sejak SMP dan telah di muat di beberapa media Nasional Lihat Profile An-Nissa
Cerpen Terdahulu
Arsip Cerpen
sutbok
Nama :
Web Url :
Komentar :
by: doneeh.com
Links
Affiliates
15n41n1
© 2005 An-nisa.blogspot.com