CINTA DI NEGERI KABUT Suatu musim, ketika pertama kali Kay melihat laki-laki itu berdiri di ruang baca papanya, dengan tubuh bersandar pada dinding lemari buku dan jari-jari yang sibuk membuka lembar demi lembar buku yang di pegangnya. Sepasang kaki yang kokoh di balut celana panjang berwarna hitam dan sepasang sepatu Buchery yang tersemir rapi. Wajahnya yang terlihat menyamping menyimbulkan sebuah rahang yang kuat, kumis tipis dan sepasang alis yang hitam dan tebal, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih kemerah-merahan. Sejenak Kay tertegun di sudut pintu masuk ruang baca papanya. Dengan tangan memegang gorden ungu yang terjuntai menyentuh lantai keramik yang berwarna pucat. Tak ada keberanian untuk melangkah masuk, apalagi untuk sekedar menyapa. Ia hanya berdiri mematung dengan sepasang mata yang awas memandang ke arah laki-laki itu. Dan sejauh itu, laki-laki itupun tampaknya tidak menyadari kehadiran Kay. Matanya terus tertuju pada buku yang di pegangnya. Namun sesekali sepasang mata itu memandang lurus kedepan kearah jendela kaca lebar berbingkai kayu ulin yang di pernis keemasan. Kay masih ingat saat itu ia berusia dua belas tahun. Sebuah usia yang menurutnya penuh dengan berbagai kecemasan. Perasaan cemas yang dirasakannnya saat mendapatkan haid pertamanya, begitu juga saat Kay perlahan mengamati pertumbuhan biologis pada organ-organ tertentu dalam tubuhnya. Peralihan rasa saat dulu di panggil nona kecil dan sekarang akan menjadi seorang nona. Semua kecemasan yang membuat Kay tidak dapat lagi menikmati sepenuhnya saat mengayuh sepeda mininya, tertawa saat membaca buku-buku komik yang terpajang di rak panjang di depan tempat tidurnya, dan mulai menjauhkan Kay dari koleksi boneka Barbienya. Namun semua kecemasan itu terasa kalah jauh dengan apa yang baru pertama kali di rasakannya saat itu, sebuah kecemasan yang menjalari seluruh pembuluh darahnya, dan yang lebih parah lagi ketika di benak Kay muncul sebuah imajinasi intim yang bertabrakan dengan realitas bahwa ia masih terlalu hijau hanya untuk sekedar membayangkannya. Tapi yang pasti, semua perasaan yang di rasakannya itu bermuara pada sosok laki-laki asing yang pertama kali di lihatnya di ruang baca papanya. “Siapa laki-laki itu ma?” tanya Kay seuatu kali kepada mamanya yang sedang sibuk dengan adonan kue diatas meja dapur. “Laki-laki yang mana Kay?” tanya mamanya dengan mata yang menyipit. “Laki-laki yang sering berada di ruang kerja papa,” jawab Kay. “Oh, itu Om Baron, Baron Hendarta. Dia teman papamu dulu waktu kuliah di Jerman. Dan sekarang mereka sedang terlibat dalam sebuah proyek penelitian.” “Apakah dia punya istri dan anak?” tanya Kay lagi. “Dia belum menikah,” jawab mamanya sambil menggeleng perlahan. “Hmm, apakah dia mempunyai pacar?”tanya Kay malu-malu. Sejenak mamanya memandang sambil tersenyum ke arah Kay, namun kemudian diam dan kembali sibuk menuangkan coklat bubuk ke dalam adonan black forest yang di buatnya. Kay merasa tidak puas dengan respon yang di berikan mamanya. Perlahan dia berjalan kearah meja dapur dan berdiri di dekat mamanya. Kay mencelupkan ujung jari telunjuknya kedalam adonan kue yang sudah berwarna coklat,dan kemudian memasukkan telunjuk yang berlumur adonan itu kedalam mulutnya. “Hmm, kurasa ini terlalu manis, komentar Kay sambil berjalan meninggalkan dapur di iringi senyum di wajah mamanya. Mulai saat itu, kehadiran Baron di rumahnya bukanlah hal yang asing lagi bagi Kay. Diam-diam Kay mulai sering mengamati ekspresi wajah Baron yang selalu serius, ketika kali-laki itu terlihat sibuk bersama papanya di ruang kerja. Atau saat mereka terlihat santai di beranda samping. Atau ketika mereka asik bermain bilyard di lantai dasar rumahnya. Bahkan Kay mulai dapat membedakan suara mesin mobilnya saat laki-laki itu datang dan meninggalkan pekarangan rumahnya. Dan entah mengapa perlahan Kay merasakan bahwa kedatangan Baron di waktu-waktu tertentu ke rumahnya membawa perubahan aneh yang di rasakan pada tubuhnya yaitu saat dimana ujung-ujung jari kakinya akan menjadi dingin dan mengejang dan perutnya tiba-tiba terasa mual. Seperti ketika suatu malam Kay keluar dari kamar tidurnya dengan piyama berwarna krem, dan berjalan perlahan-lahan ke arah tangga dan diam-diam duduk di anak tangga teratas sambil memandang ke bawah ke ruang tengah, kearah bar mini yg di disain sendiri oleh papanya. Dari atas Kay melihat ketika laki-laki itu melepaskan jasnya, menggantungkannnya di sandaran kursi yang bisa di stel tinggi, rendah dan memutar dan perlahan menggulung lengan kemejanya yang berwarna biru laut, memperlihatkan bulu-bulu halus dari kedua tangannya yang kekar. Sementara papanya yang berdiri di balik meja bar menuangkan minuman ke dalam gelas pendek berigi yang bulat. Sebelum meminumnya, kay melihat Baron memasukkan beberapa potong es batu yang berwarna kristal, menggoyangkan gelasnya sebentar dan kemudian meminumnya perlahan. Kay tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tapi dia bisa melihat seraut wajah yang terlihat serius, tanpa senyuman, terlihat dingin dan kaku, namun entah mengapa Kay mulai menyukainya. Walaupun sejak pertemuan pertama, Kay tidak pernah melihat laki-laki itu tersenyum, begitu juga ketika pertama kali papanya memperkenalkan Kay dengan laki-kali itu. “Baron, ini putriku Kayyomi.” Laki-laki itu hanya melihat sekilas ke arahnya dan berkomentar pendek. “Putrimu cantik Hans, tapi lebih mirip Ratih istrimu.” Lalu seperti biasa matanya yg dingin itu akan beralih memandang keluar jendela ke arah bunga-bunga Kamboja yang sedang merekah. Dan entah mengapa Kay merasa tidak puas dengan tanggapan yang di berikan Baron. Dalam hati ia merasa kecewa. Pagi itu ketika Kay sedang menbaca buku komik kesayangannya di beranda samping yang bersebelahan dengan ruang baca papanya. Tiba-tiba Kay di kejutkan oleh sebuah suara yang menyapanya dari arah belakang. “Mulailah membaca buku yang lebih serius dan berbobot. Papamu di usiamu ini bahkan telah membaca buku-buku filsafat.” Kay menoleh kebelakang dan melihat Baron berdiri di pintu beranda. Tidak seperti biasanya ketika Baron selalu terlihat rapi dengan stelan jasnya. Kali ini dia tampil berbeda, dengan kemeja kotak-kotak dan celana jeans berwarna biru tua. Dan dalam hati Kay memuji bahwa Baron terlihat lebih gagah, walaupun usianya tidak terpaut jauh dengan papanya. Namun laki-laki itu terlihat lebih muda. Sebelum Kay sempat berkomentar dengan pernyataan Baron, ia melihat laki-laki itu melangkah masuk ke arah ruang baca papanya dan kemudian tangannya sibuk mencari-cari sesuatu. Tak berapa lama dia berbalik ke arah Kay dengan sebuah buku di tangan. “Kurasa ini cocok untukmu sebagai permulaan,” katanya sambil menyerahkan buku yang di pegangnya ke tangan Kay. Tanpa banyak komentar Kay meraih buku itu, membaca judulnya sekilas -Layar Terkembang- kemudian meletakkannya di atas meja di depannya. Sejenak Kay tetap diam sambil memandang buku yang tergeletak di atas meja. “Mengapa anda belum menikah?” Sebuah pertanyaan yang sangat mengejutkan tiba-tiba meluncur dari mulut Kay tanpa ia sempat meralatnya. Laki-laki itu tidak menjawab. Dan anehnya tidak ada perubahan yang terjadi pada raut wajahnya yang kemerahan itu. Tetap dingin dan kaku. “Nenekku pernah bilang kalau setiap orang harus menikah.” “Kenapa begitu?” tiba-tiba laki-laki itu menyela. “Karena sebuah pernikahan bisa membuat orang lebih banyak tersenyum,”jawab Kay sambil memandang kearah Baron. Untuk sejenak kedua pasang mata mereka bertemu, sepasang mata yang dingin dan kaku milik Baron dan sepasang mata kecil dan naif milik Kay. “Sebuah pernikahan itu bukanlah seperti saat kita memilih menu makan malam. Begitu banyak yang harus di pertimbangkan,” jawab Baron diplomatis. “Papa dan mamaku tidak punya masalah dengan hal itu,” bantah Kay. “Kau masih terlalu kecil untuk sekedar memahami hal itu,” jawab Baron sambil berlalu dari hadapan Kay. Kay hanya terdiam. Tak ada keinginan untuk berbantah atau sekedar bertanya lebih lanjut. Tapi dalam hati dia merasa puas. Beberapa waktu kemudian Kay mulai jarang melihat Baron berkunjung kerumahnya. Tidak seperti biasanya, entah mengapa kali ini Kay merasa ada sesuatu yang hilang. Tidak dengan deru mesin mobilnya ketika meninggalkan pekarangan rumah Kay. Atau dengan percakapan seriusnya di ruang kerja papanya. Tapi kali ini Kay mulai merasa rindu memandangi wajahnya yang dingin dan kaku. Tapi apalah arti rindu yang di rasakan oleh seorang gadis berusia dua belas tahun terhadap seorang laki-laki yang hampir sebaya dengan papanya. Kay mulai memilah-milah perasaan rindu yang pernah di rasakannya. Mungkin juga hal ini sama rasanya ketika dia merindukan kakek dan neneknya yang tinggal di kaki bukit. Atau ketika Kay rindu pada papanya yang meninggalkannya beberapa waktu untuk tugas keluar negeri. Dan perasaan rindu yang Kay rasakan pada sahabat-sahabatnya di sekolahnya yang dulu. Namun perasaan rindu yang di rasakannya kali ini sangat berbeda. Perasaan rindu yang bermain di hatinya, menyebar ke sekujur tubuhnya. Membuatnya benci saat-saat ketika harus makan malam dan membuat wajah-wajah orang-orang di sekitarnya membesar dan berubah menakutkan yang menyebabkan Kay lebih memilih untuk bersunyi di kamarnya sambil memandangi wajahnya sendiri. “Umur berapa mama pertama kali jatuh cinta?” tanya Kay suatu hari. Kay melihat wajah mamanya sedikit terperanjat, namun kemudian tersenyum ke arahnya. “Hmm, lima belas tahun. Kenapa kau tanyakan itu sayang?” “Apakah gadis seusiaku ini terlalu cepat untuk jatuh cinta?” tanya Kay lagi. Sesaat mamanya menatap Kay dengan pandangan takjub, sama seperti tatapan seorang ibu yang baru saja melihat anaknya mulai belajar berjalan.
|